Senin, 22 April 2013

Kasih Tak Sampai

Aku sudah bukan anak kecil lagi sekarang, masalah yang ku hadapi semakin kompleks..

Entah kenapa setiap hal semakin rumit, semakin sulit dipikirkan, terutama masalah hati. Setahun yang lalu tanpa berpikir panjang aku melangkah, menjalaninya, tanpa berpikir jauh apa risikonya. Aku yang saat itu hanya menganggap semua akan baik2 saja, tak akan merugikan siapapun, ternyata salah. Justru inilah awal dari kepahitan. Mungkin ini akan menjadikanku semakin dewasa menghadapi masalah hidup. Ya, menjadi dewasa tidaklah mudah, seperti melewati jalan berbatu runcing tanpa aspal yang terbakar panas matahari yang tak tersaring lapisan atmosphere dengan bertelanjang kaki. Mungkin lebih parah dari itu.

Dia yang ku kenal november satu tahun lalu berbeda 11 tahun dari usiaku. Wajahnya tak menggambarkan usianya, dia awet muda, dia laki2 soleh, masih ada hubungan kerabat denganku, dia karyawan di sebuah perusahaan besar di Indonesia, dan dia laki2 lembut yang pernah ku kenal..

Dia yang tidak pernah memarahiku, meninggikan suaranya, apalagi membentakku. Dia yang selalu saja mengalah dan memanjakanku, dan dia yg mengarahkanku untuk menjadi wanita yang solehah. Ya, dia istimewa..

Seharusnya aku sadar diri, dia seharusnya dia tak perlu ada di sini bersamaku. Semua terasa mudah awalnya, tapi seharusnya aku lebih dengar kata2 ibuku. Usia dia jauh dariku, aku masih harus kuliah setelah lulus sekolah, aku harus jadi orang sukses dan membnggakan orang tuaku. Dia harus menyegerakan membangun mahligai rumah tangga, bukan untuk menyia-nyiakan waktunya menunggu ku. Aku yang masih tak pasti.

Ibu beberapa kali memberi peringatan untuk tidak terlalu cinta, dia sangat tau aku hanya fatamorgana untuk laki2 itu, aku hanya anak kecil yang masih harus sekolah, bukan untuk menikah, ibu tau aku rentan, dia tak mau melihatku sakit. Apalagi saat ini aku kuliah di luar kota yang jauh dari pengawasannya.

Iya ternyata feeling ibu selalu benar, aku tidak tercipta untuknya. Setelah aku menduduki bangku kuliah aku tersadar akan fitrahku berada di sana. Aku harus menggapai cita2 yang ku punya, aku harus membanggakan dan memberikan yg terbaik untuk orang tuaku, karena untuk itulah mereka melepasku jauh dari mereka. Sekali lagi aku seharusnya tau apa yang aku lakukan dari dulu hanya akan mempersulitku. Semakin mendekati satu tahun hubunganku dengannya aku semakin ragu. Tak henti2nya ku panjatkan doa kepada sang Maha Kuasa. Akhirnya aku putus. Tidak terasa sakit karena dia masih selalu menghubungiku seperti biasa, hanya status yang tidak lagi berpacaran.

Aku bingung, dia yang kulepas untuk mencari yang lebih baik dan siap dariku malah masih berhantung padaku. dan aku pun masih tidak suka dia dekat dengan yang lain. Aku sayangsekali kepadanya. Tak ada celah sedikitpun untuk orang lain. Ya beberapa peristiwa yang mengingatkanku bahwa aku harus benar2 melepasnya. Semakin lama aku menahannya saat ini, maka akan semakin sakit luka yang akan kudapatkan nantinya.

Dia mengutarakan ingin menikah tahun depan, minimal dia mau melamarku terlebih dahulu. Aku mungkin bilang bisa, tapi aku harus kembali melihat tanggunganku, ibu tak izinkanku menikah di saat aku masih kuliah. selain kuliahku jauh, dia tidak mau aku menjadi lalai dengan kuliahku. Aku mencoba perlahan untuk tidak menghubunginya meski dia selalu menghubungiku seperti biasa. Sakiiiiitttt sekali harus berpura-pura tidak peduli padanya. Aku menyerah! Aku tumpahkan segala kegalauanku pada ibu. ibu marah, mungkin lebih tepatnya sedih. ibu memberiku DUA pilihan yang rasanya sangat sulit untuk ku pilih saat itu. "Mama izinin kamu tetap komunikasi dengan dia sebagai teman, makanya mama izinin kamu tetap petgi dengan dia. tapi kalau membuat perasaanmu semakin dalam dan tidak bisa melepas dia lebih baik hubungan kamu di CUT saja. Lupakan dia. Biarkan dia menikah dengan yang lain daripada menanti ketidakpastian darimu. sekarang juga kamu pilih. kalau masih mau lanjut dengan dia kamu tidak perlu balik ke sana,kamu kerja saja di jakarta, kamu boleh menikah kapanpun kamu mau. tapi kalau kamu masih ingat cita2 kamu, kamu boleh kuliah sampai selesai dan mulai hidup baru tanpa dia. Liat usia dia, harusnya kamu sadar itu. dia harus menyegerakan,bukan menunggu."

Ya, buatku ini pilihan sulit. Tak henti2nya ku menangis. Dengan segenap hati aku raih ponselku dan mulai ku ketik kata2 yang menentukan pilihanku dan kukirimkan kepadanya. Aku berlari memeluk ibu di kamarnya dan kembali menangis. "Aku masih mau kuliah ma, aku sayang mama." kataku tersedu, ibu pun ikut menitikkan air mata. Aku tentu tidak akan sudi melihatnya menangis karena ke egoisanku. "Kuliah yang tekun, kelak suatu hari jodoh yang terbaik pasti menjemputmu, karna tulang rusuk tidak akan pernah tertukar." Ibu memang benar, aku yang terlalu buta akan hal itu. Allah pasti sudah menyimpan pendamping hidupku dan akan memberikannya di kala ku sudah siap.

Semoga ini pilihan yang terbaik dan takkan pernah ada penyesalan yang datang menghampiri. Semoga engkau yang dulu (dan masih) aku cintai mendapat kebahagian lain.dan wanita itu akan menjaga dan mencintaimu lebih dari aku. Semoga aku tetap bisa membahagiakanmu ibu, dan juga ayah. aku tak akan mengecewakan kalian yg terlalu sayang akan anak perempuan satu2nya(karena adik2ku laki2) yang kalian punya. dan aku akan selalu menjadi kakak yg baik untuk adik2ku. dan untuk kamu yang masih menjadi rahasia-Nya. Persiapkan dirimu untuk bertemu diriku suatu hari nanti. mungkin saat ini kita harus memperbaiki diri kita sebelum pertemuan yang sangat2 dinanti:')

Jakarta, 23 April 2013. 01:14